Student wellbeing adalah keadaan emosional berkelanjutan yang menggambarkan adanya positivity mood yaitu suasana hati dan perilaku yang positif dalam hubungan positif dengan teman sebaya dan guru, resiliensi, diri dan sikap yang optimis, dan kepuasan pada pengalaman belajar di sekolah. Teori student wellbeing ini memiliki 4 aspek yaitu positivity, resilience,- self-optimisation, dan satisfaction.

Positivity dijelaskan secara sederhana sebagai keadaan atau karakter yang positif; kepositifan yang dapat diterima secara •universal di manapun. Istilah positif yang digunakan termasuk didalamnya adanya pemaknaan positif dan perilaku optimis yang dapat menyebabkan timbulnya emosi positif. Positivity memperlihatkan adanya efek jangka paruang emosi positif yang dimiliki oleh seSeorang baik bagi kepribadiannya, hubungannya dengan orang lain, konumitas, maupun lingkungan. Hal yang menjadi fokus pada aspek ini adalah bagaimana penilaian siswa terhadap pendidik yang membuat, menyediakan, memodifikasi ruang belajar dan memberikan kesempatan belajar kepada siswa untuk bisa merasakan adanya pengalaman positif seperti merasa aman, nyaman, dan menyenangkan ketika belajar. Selain emosi dan perilaku positif, positivitv juga dilihat dari hubungan positif yang dibangun siswa dengan leman sebaya dan guru.

Resilience mengarahkan pada pentingnya kemampuan dan dukungan yang dimiliki siswa untuk mengembalikan perasaan positif ketika sewaktu-waktu ada kondisi atau situasi yang tidak berjalan dengan baik di sekolah. Selain itu, resiliensi juga dapat dipahami sebagai kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan, kesulitan, dan segala hambatan yang mungkin dihadapi saat berada di sekolah. Sehingga pada definisi ini, resiliensi diartikan sebagai kemampuan Siswa dalam menghadapi se gala hambatan Yang mungkin terjadi, kemudian mampu mengembalikan perasaan positifnya meskipun setelah adanya perubahan-perubahan, tantangan, kekecewaan, dan situasi sulit sehingga kembali pada situasi wellbeing . Biasanya sumber-sumber masalah yang muncul berasal dari keluarga, perubahan atau kehilangan relasi pertemanan, performa akademik Yang buruk, dan kekecewaan karena sesuatu yang dihadapi tidak berjalan sesuai dengan yang seharusnya (misalnya tidak dipilih sebagai anggota dalam suatu kelompok tertentu).

Self-optimisation atau perasaan optimis diartikan sebagai kesadaran realistis individu terhadap kemampuan diri, yaitu Inampu menunjukkan keinginan Yang kuat untuk menggunakan kemampuan tersebut dalam mengembangkan potensi pribadi yang dimiliki (misalnya kecerdasan, kemampuan sosial, emosional, fisik, dan spiritual). Siswa dapat melihat intelegensi atau keinampuannya dalam menyelesaikan masalah sebagai suatu kuantitas yang dimiliki , atau sebagai suatu kuantitas  yang dapat ditingkatkan dengan usaha dan proses belajar . Meyak’ini bahwa kemampuan intelektualnya terbatas sehingga hal tersebut dapat nwnyebabkan sisxva berpikir destruklif, perasaan negatif, perilaku negatif. Siswa dengan growth mindset lebih sering mempersepsi berbagai tanthngan sebagai sebuah kesempatan untuk belajar. Respon yang diberikan biasanya konstruktif, merasakan adanya perasaan positif karena bersemangat menghadapi tantangan, serta memiliki perilaku positif. Siswa dengan mindset ini lebih fokus pada mastery goals atau learning goals (tujuan pembelajaran) karena mereka mengerjakan berbagai tugas yang diyakini membantu belajar baik mempelajari hal baru maupun suatu keterampilan dan pengetahuan tertentu.

Satisfaction (kepuasan) menjelaskan tentang bagaimana kepuasan yang dirasakan siswa tehadap kualitas dan relevansi pengalaman belajarnya di sekolah serta sejauh mana siswa merasa ikut berperan dan berpengaruh dalam pengalaman belajar tersebut. Siswa dengan level yang optilual atau tinggi akan memerlihatkan perilaku-misalnva kemampuan akademik yang perilaku positif terhadap kegiatan sekolah.

 

Sumber:

Noble, T. & McGrath, H. (2008).  The positive educational practices framework: a tool for facilitating the work of educational psychologists in promoting pupil wellbeing.  Educational and Child Psychology, 25(2), 119-134.  (2015).  The PROSPER school pathways for student wellbeing: policy and practices.  Switzerland: Springer International Publishing.

Noble, T., McGrath, H. L. Roffey, S. & Rowling, L. (2008).  Scoping study into approaches to student wellbeing.  Report to the Department of Education, Employment and Workplace Relations.

 

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *